Duka Untuk Choirul Huda, PSSI Harus Membuat Kompetisi yang Layak

Kiper Persela Lamongan sekaligus salah satu kiper terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, Choirul Huda, meninggal dunia beberapa hari lalu. Meninggalnya Choirul Huda pun menambah panjang catatan buruk kompetisi sepakbola Indonesia. Dengan ini, timbulah pertanyaan saya dan kebanyakan pecinta sepakbola, sulitkah bagi PSSI untuk membuat kompetisi yang layak?

Choirul Huda meninggal dunia akibat benturan dengan Ramon Rodriguez, rekannya di Persela Lamongan dalam laga menghadapi Semen Padang di Stadion Surajaya, Minggu 15 Oktober 2017. Huda sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi sangat disayangkan nyawanya tidak tertolong.

Saat insiden terjadi para pemain terlihat gugup dan panik. Tim medis langsung berlari memasuki lapangan ketika melihat Huda tidak sadarkan diri. Riko Simanjuntak berlari keluar lapangan menjemput petugas medis yang membawa tabung oksigen dinilai sudah terlalu tua karena kerepotan membawa tabung oksigen tersebut. Namun sayang, meskipun Riko sudah berusaha mempercepat proses pertolongan pertama, pada akhirnya nyawa kiper yang selama karirnya cuma bermain untuk Persela itu tetap tidak tertolong.

Sebelumnya, insiden yang mirip pernah juga menimpah Aji Saka, penjaga gawang Persegres Gresik United. Untungnya nyawa Aji Saka terselamatkan dengan aksi penyelamatan Cristian Gonzalez yang bermain untuk Arema FC. Ia memberikan pertolongan pertama dengan menarik lidah Aji Saka.

Kejadian yang menimpa Huda bukan hanya jadi sorotan publik dalam negeri, media internasional pun ramai membicarakan ini. Bahkan tiga kiper dunia juga turut berbelasungkawa atas meninggalnya Huda. Peter Cech, Marc ter Stegen dan David James memberikan ucapan duka cita atas meninggalnya Huda melalui media sosialnya masing-masing.

Sebenarnya hal seperti ini bisa saja dihindari jika PSSI dan tim mengadakan edukasi atau pelatihan khusus pada para pemain, official pertandingan, dan semua elemen tim mengenai penyelamatan pertama jika ada kejadian serupa. Saya yakin banyak pemain yang berharap PSSI dan tim mengadakan ini karena yang menjadi taruhan adalah nyawa.

Saya sangat berharap PSSI dengan manajemen yang beberapa bulan lalu baru dibentuk kembali dapat membereskan masalah ini dengan sangat serius. Jika mimpi Indonesia adalah menjadi tuan rumah piala dunia, saya rasa itu hanyalah angan belaka selama masalah seperti ini saja tidak sanggup ditangani.