Nasib Son Bersama Tottenham yang akan Ditentukan di Indonesia

Son Heung-Min adalah sosok pemain penting pada lini depan Tottenham Hotspur. Di musim 2017/18 ini, Son sudah tampil dalam 44 pertandingan di semua ajang, dan mencetak 18 gol dan sembilan asis. Torehan tersebut yang menjadikan Son sebagai pemain terproduktif kedua di Tottenham setelah Harry Kane (35 gol dari 39 pertandingan di semua ajang).

Son, yang mempunyai posisi alami sebagai winger kerap menjadi poros penting dalam serangan Tottenham dari sisi lapangan. Pemain asal Korea Selatan itu memang punya kemampuan dribel yang sangat bagus. Berdasarkan data dari Whoscored, per pertandingan ia mampu mencatatkan 1,8 dribel yang sukses. Angka ini terbilang sebagai yang tertinggi bila dibandingkan dengan pemain depan Tottenham lainnya.

Selain itu, Son juga dapat melepaskan rata-rata 2,1 tembakan dalam satu pertandingan. Jumlah tersebut menempatkannya di posisi ketiga pemain Tottenham dengan rataan tembakan terbanyak di setiap laga. Son hanya kalah dari Kane (5,6) dan Christian Eriksen (2,7).

Performa impresif dari Son ini yang membuat Tottenham berniat memperpanjang kontraknya. Kontrak Son bersama The Lilywhites sendiri berakhir pada Juni 2020. Dilansir dari Sky Sports, Tottenham saat ini sedang menjalin pembicaraan dengan Son mengenai perpanjangan kontrak tersebut.

Son sangat antusias menyambut rencana perpanjangan kontraknya bersama Tottenham. Son mengaku sangat menikmati waktu bermainnya untuk tim asuhan Mauricio Pochetino itu. Baginya, rencana perpanjangan kontrak yang akan diberikan Tottenham merupakan buah dari hasil kerja kerasnya.

“Saya membuktikan banyak hal saat bermain untuk Tottenham dalam dua setengah tahun terakhir ini. Saya sangat menikmati dan bahagia. inilah yang saya inginkan. Saya bermain di Tottenham hampir tiga tahun. Saya membuktikan banyak hal dan saya menikmatinya dari hari ke hari,” katanya.

Meski begitu, Son dan Tottenham saat ini berada dalam posisi sulit. Son terancam meninggalkan Tottenham selama dua tahun karena harus mengikuti wajib militer.

Sejak 1957, Pemerintah Korea Selatan mewajibkan pemuda berusia 18 sampai 35 tahun di sana ikut wajib militer selama dua tahun. Tidak ada yang bisa mengelak dari kewajiban tersebut, karena ancaman tiga tahun penjara membayangi mereka yang mangkir dari wajib militer.

Son saat ini berusia 25 tahun. Dalam waktu dekat ia harus pulang ke Korea Selatan untuk menjalani wajib militer. Tidak ada alasan bagi Son mengelak, karena dispensasi tidak mengikuti wajib militer hanya diberikan kepada mereka yang mengalami kecacatan fisik dan keterbelakangan mental.

Tapi Pemerintah Korea Selatan bersedia memberikan dispensasi khusus kepada Son, agar terhindar dari wajib militer. Dengan catatan, ia mampu membawa timnas Korea Selatan meraih medali emas di Asian Games 2018. Tidak hanya Son, Atlet Korea Selatan mana saja yang meraih medali emas di ajang tersebut pun akan diberi dispensasi tak ikut wajib militer, sebagai penghargaan karena berjasa besar kepada negara.

Dalam bidang sepakbola, dispensasi khusus tak ikut wajib militer pernah diberikan Pemerintah Korea Selatan di tahun 2002 lalu. Saat itu, Korea Selatan yang menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Jepang, bersedia memberi dispensasi kepada pemain timnas Korea Selatan tidak ikut wajib militer. Namun dengan syarat, Korea Selatan minimal bisa menembus babak 16 besar.

Seakan tersengat dengan dispensasi tersebut, Korea Selatan tampil impresif di Piala Dunia 2002. Mereka tidak hanya menembus babak 16 besar, namun mengakhiri turnamen di posisi empat. Melalui kesuksesan tersebut, Pemerintah Korea Selatan membebaskan para pemain Korea Selatan dari wajib militer.

Beberapa pemain merasakan dampak dispensasi tersebut, salah satunya Park Ji-Sung. Dispensasi tak ikut wajib militer membuat karier Park Ji Sung bersinar di Eropa. Setahun setelah Piala Dunia 2002, Park Ji Sung merumput di PSV Eindhoven. Dua tahun kemudian, ia pindah ke Manchester United dan menjadi sosok sentral di lini tengah Setan Merah dari 2005 sampai 2012. Setelah itu ia hijrah ke Queens Park Rangers (QPR) dan mengakhiri karier di PSV pada 2014 lalu.

Son berpeluang mengikuti jejak Park Ji Sung, dengan catatan berprestasi di Asian games 2018. Pesta olahraga itu akan berlangsung di Indonesia dari Agustus hingga September 2018. Merunut waktu penyelenggaraannya, Tottenham tetap akan kehilangan Son di pekan-pekan awal kompetisi musim depan. Tapi, itu adalah pilihan paling realistis yang bisa diterima Tottenham, daripada mereka harus kehilangan Son selama dua tahun karena sang pemain ikut wajib militer.

Walau begitu, Tottenham pun tidak bisa langsung tenang. Sebab, bila Korea Selatan gagal meraih medali emas di Asian Games, bukan tidak mungkin mereka tetap kehilangan Son yang ikut wajib militer.

Ini Biaya yang Diperlukan Jika Persija Jakarta Tampil di SUGBK

Persija Jakarta hampir dapat dipastikan akan menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sebagai kandang mereka menghadapi musim 2018. Tidak hanya untuk ajang Piala AFC, tapi kemungkinan besar juga bisa digunakan untuk markas di Liga 1.

Hal itu sudah ditegaskan oleh Direktur Utama dari Persija Jakarta, Gede Widiade saat ditemui di GOR Sumantri, Jakarta. Ia juga mengungkapkan dirinya sudah mendapatkan surat balasan resmi dari pihak Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) terkait perizinan penggunaan stadion tersebut.

Untuk ke depannya, Gede juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Namun, ada beberapa catatan jika tim Macan Kemayoran sudah 100 persen diizinkan menggunakan GBK. Catatan paling utama adalah soal ketertiban dari kelompok suporter Persija yang lebih dikenal The Jak Mania.

Mengingat SUGBK adalah venue utama untuk Asian Games, Persija Jakarta juga meminta kepada Jakmania untuk dapat menjaga semua fasilitas yang ada di SUGBK. Apalagi, biaya sewa yang harus dikeluarkan Persija untuk SUGBK juga sudah terlampau mahal.

“Jadi begini, uang sewanya 540 juta, jaminannya 1,5 miliar, berarti sekali main harus menanamkan uang sekitar 2 miliar 40 juta. Apabila terjadi kerusakan, uang jaminan akan dipotong, ini yang perlu disikapi oleh teman-teman suporter,” ungkap Gede.

Gede sendiri juga tak ingin GBK yang sudah mengalami perbaikan signifikan setelah renovasi menjadi rusak lagi akibat ulah-ulah pihak yang bertanggung jawab. Karena itu ia meminta Jakmania untuk menjadi suporter yang dewasa. Hal itu juga penting untuk terus mendapatkan izin tampil di GBK.

“Itu sebabnya saya sangat mengharapkan, yang pasti satu keselamatan dari penonton, keamanan, dan kenyamanan dari aset. Asian Games sudah di depan mata. Daripada nanti kita dilarang, kan repot kita,” ungkap Gede.

Jika dibandingkan dengan Stadion Patriot yang ada di Bekasi, pengeluaran Persija untuk tampil di GBK memang naik hingga 10 kali lipat. Pasalnya, dulu harga sewa untuk bermain di Patriot hanya Rp 50 juta. Dan uang jaminannya juga hanya Rp 15 juta.

Keamanan dari fasilitas SUGBK sendiri memang saat ini menjadi sorotan publik setelah pertanding persahabatan antara Indonesia vs Islandia. Karena di pertandingan tersebut masih banyak penonton yang sengaja berdiri di kursi yang telah disediakan hingga beberapa kursi tersebut rusak. Beberapa kejadian lainnya juga tertangkap kamera cctv keamanan di SUGBK. Dengan adanya kejadian tersebut diharapkan para penonton di SUGBK dapat lebih peduli dengan fasilitas di SUGBK.